Yayasan At Tiin Bandung, ID DELAPAN (Islam Dalam DErap LAngkah generasi TerdePAN), IDE 8 Pemikiran yang Tidak Terputus, blog ini sebagai media silaturahmi, forum komunikasi, teman-teman di Bandung, menyampaikan ide, gagasan, artikel-artikel keislaman dalam rangka mencari ridho Allah semata. menjadikan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. yayasan At Tiin bergerak dibidang pendidikan dan sosial. program : santunan fakir miskin, dan anak yatim piatu, pendidikan Paud dan mengaji.
Tampilkan postingan dengan label info baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info baru. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 September 2012
Selasa, 14 Agustus 2012
Perbedaan Zakat, Infaq & Shodaqoh
Definisi Zakat :
Menurut Bahasa :
tumbuh (numuww),Suci (thaharah) dan bersih Berkembang dan bertambah (ziyadah) .
Menurut Istilah Fiqh :
Menyerahkan sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang berhak menerimanya
Tujuan Zakat (1) :
Membersihkan :
1. Membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta dari kekikiran.
2. Membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki
3. Membersihkan masyarakat dari benih perpecahan
4. membersihkan harta dari hak orang lain
tumbuh (numuww),Suci (thaharah) dan bersih Berkembang dan bertambah (ziyadah) .
Menurut Istilah Fiqh :
Menyerahkan sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang berhak menerimanya
Tujuan Zakat (1) :
Membersihkan :
1. Membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta dari kekikiran.
2. Membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki
3. Membersihkan masyarakat dari benih perpecahan
4. membersihkan harta dari hak orang lain
ARTI SHODAQOH
Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya
sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw.,
orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana
kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat
bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah
Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap
kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah
sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah
sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para
sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami
melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab,
“Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram,
apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia
mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Amal Jariyah & Dosa Jariyah
Kalau
kita berbicara tentang amal jariyah, tentu secara tidak sadar kita akan
langsung”conect” dengan hadist yang terjemahannya “Jika anak Adam meninggal,
maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu
yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).
Namun
kita juga tidak boleh lupa dengan amal jariyah yang lain, ingat, amal jariyah
itu maknanya bukan hanya amal yang sholeh, karena amal itu ada dua, amal shalih
dan amal salah. amal yang salah pun bisa menjadi dosa jariyah!
Banyak
orang berpikir bahwa setelah kematiannya, dosa-dosanya pun akan terhenti
putarannya. Dia berpikir bahwa dosa-dosanya tidak akan berkembang lagi setelah
dia meninggal dunia. Padahal, selain amal jariyah (pahala yang terus-menerus),
ada juga dosa jariyah, yakni berjalannya segala dosa, kendati telah berkubang
tanah.
“Barangsiapa
yang menyeru orang lain pada kesesatan (tradisi buruk), maka dia akan
menanggung dosa sebagaimana dosa yang dilakukan oleh orang yang mengikutinya
tanpa mengurangi dosa-dosa orang yang mengikutinya.” (HR Muslim).
Saya
terkadang merasa kasian dan tidak habis fikir kepada orang-orang yang mencela
guru kami,
ucapan selamat hari raya idul fitri
Di Indonesia
setiap hari Lebaran (Idul Fitri) tiba semua orang mengucapkan selamat dengan
bermacam-macam cara.
(Ini “pancingan” dari operator selular
agar semua orang kirim SMS sehingga traffic SMS meningkat yang ujung-ujungnya
pendapatan mereka juga meningkat atau memang murni ucapan dari seseorang
kemudian di forward setelah diedit sedikit, biasanya nama dan keluarga.
ucapanya sih sama persis).
Ada yang dengan pantun serius,
pantun plesetan, ungkapan yang sangat puitis, dll.
Nah, bagaimana yang dilakukan Nabi? Hampir semua
ucapan yang beredar tidak ada riwayatnya kepada Rasulullah kecuali ucapan: Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, “Semoga
Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Maksudnya menerima di sini adalah
menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] : “Dalam “Al
Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang
artinya) : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila
Jumat, 11 November 2011
Adab Makan dan Minum
Adab Makan dan Minum
Assalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Makanan adalah rezeki dari Allah swt yang patut disyukuri, karena dalam makanan tersebut terdapat nikmat Allah swt yang amat besar bagi kita. Dalam menikmatinya pun, sebagai umat Islam kita pun memiliki aturan atau adab-adab yang dilakukan. Berikut ini saya ingin menyampaikan beberapa adab tersebut. Diantaranya:
1. Sebelum makan, hendaknya kita membasuh kedua tangan terlebih dahulu dan membaca Basmalah (Bismillahirr Rahmanir Rahiim). Sebagaimana hadis nabi saw. yang berbunyi:
Rasulullah Saw berkata kepada Umar bin Abi Salamah, "Wahai anak, ucapkanlah Bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di hadapanmu". (HR. Bukhari)
(Dalam hal ini, Rasulullah juga mengimbau kita untuk memakan makanan yang terdekat dengan kita).
2. Apabila makanan yang dihidangkan masih panas, maka dinginkanlah terlebih dahulu. Akan tetapi janganlah meniupnya karena Rasulullah melarang hal tersebut.
Rasulullah Saw melarang orang meniup-niup makanan atau minuman. (HR. Abu Dawud)
(Apabila mendinginkannya dengan bantuan kipas atau semacamnya, tidak apa-apa).
3. Apabila kita berada dalam satu jamuan makan, maka hendaknya dia bersabar sampai tiba gilirannya untuk mengambil makanan yang telah disediakan. Karena secara adab, orang yang pertama kali mengambil makanan adalah orang yang paling tua umurnya, dan pemimpin dalam suatu golongan/kaum.
4. Jika makanan tersebut memiliki sampahnya (seperti tulang/biji pada buah) maka pisahkanlah (taruh sampahnya pada tempat yang lain).
5. Membaca Hamdalah (Alhamdu lillahi Robbil Alamiin), membaca surah Al-Ikhlas dan surah Al-Quraisy, dan doa sesudah makan, serta membersihkan kotoran-kotoran/bekas makanan yang menyangkut digigi dan yang berada dipiring, kemudian membasuh tangannya.
6. Dan apabila ia lupa mengucap doa sebelum makan, maka hendaknya membaca doa berikut yang tercantum pada hadis Rasulullah berikut:
Apabila kamu lupa menyebut "Bismillah" pada awal makan hendaklah mengucapkan:
"Bismillah pada awal dan akhirnya". (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Bismillah pada awal dan akhirnya". (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
7. Apabila minum, maka kita membaca basmalah terlebih dahulu.
8. Hendaknya minum dengan 3 nafas.
9. Minumlah dengan menggunakan gelas, karena Rasulullah melarang minum langsung dari kendi/botol/ceret dan sebagainya. Rasulullah bersabda:
Rasulullah Saw melarang orang yang minum dengan membalik mulut kendi langsung ke mulutnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Mengucap Hamdalah sesudah minum.
Diambil dari Ringkasan Ihya Ulumuddin Penerbit Hikmah Jaya Surabaya dan beberapa sumber lainnya.
artikel ini diambil dari web : http://mddakwah2010-ramadiva.blogspot.com/2011/02/adab-makan-dan-minum.html
Kamis, 10 November 2011
Menjaga Diri dan Keluarga dari Harta yang Haram
Menjaga Diri dan Keluarga dari Harta yang Haram
Bismillahirrahmanirrahim….
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Mu’minun 51)
Dalam ayat tersebut telah jelas disebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada kita agar makan dari rezeki yang halal dan baik terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk beribadah. Pasti ada makna dibalik perintah tersebut, karena makanan yang dimakan akan berpengaruh kepada akhlak dan kebersihan jiwa seseorang. Orang-orang yang senantiasa menjaga kesucian diri dan hartanya dari sesuatu yang haram akan lebih mudah untuk taat kepada Allah SWT, sebaliknya bagi orang-orang yang darahnya terbentuk dari rejeki dan makanan yang haram maka akan membuat orang tersebut lalai dan jauh dari Allah.
Ada beberapa dampak buruk sebagai akibat dari mengkonsumsi makanan dan harta haram, yaitu antara lain:
- Mencampakkan pelakunya ke Neraka.
- “Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya”. (HR. Ath-Thabrani)
Atau dalam hadits serupa lainnya yaitu :
- “Setiap daging (bagian tubuh) yang tumbuh dari barang yang haram, maka api nerakalah baginya” . (HR. At Tirmidzi)
- “Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya“. [HR Ahmad & Ad Darimi].
- Orang yang paling dirundung penyesalan pada hari kiamat ialah orang yang memperoleh harta dari sumber yang tidak halal lalu menyebabkannya masuk neraka. (HR. Bukhari)
- “Barangsiapa tidak memperdulikan dari mana ia memperoleh harta, maka Allah tidak perduli pula dari mana Dia memasukannya ke neraka” (HR. Abu Manshur Ad-Dailani).
- “Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya”. (HR. Ath-Thabrani)
- Tidak terkabulnya Do’a.
Dari Abu Hurairoh ra, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak mau menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rosul, Allah berfirman, “Wahai para Rosul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal sholih” (QS Al Mukminun: 51). Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu” (QS Al Baqoroh: 172). Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Robbku, wahai Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan do’anya?.” (HR. Muslim) - Tidak diterimanya Amalan selama 40 hari.
Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca ayat:
berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash kemudian berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal)niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya (HR. Ath-Thabrani) - Mengeraskan Hati.Imam Ahmad ra pernah ditanya, apa yang harus dilakukan agar hati mudah menerima kesabaran, maka beliau menjawab, “Dengan memakan makanan halal.” (Thabaqat Al Hanabilah : 1/219).
At Tustari, seorang mufassir juga mengatakan, “Barangsiapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan, kecuali yang halal dan mengamalkan sunnah,” (Ar Risalah Al Mustarsyidin : hal 216). - Shalatnya tidak diterima.
”Siapa saja yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, satu dirham diantaranya uang haram, maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama pakaian itu dikenakan”. (HR. Ahmad) - Haji dari Harta Haram Tertolak.
Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang keluar untuk melakukan haji dengan nafaqah haram, kemudian ia mengendarai tunggangan dan mengatakan, “Labbaik, Allahumma labbaik!” Maka yang berada di langit menyeru, “Tidak labbaik dan kau tidak memperoleh kebahagiaan! Bekalmu haram, kendaraanmu haram dan hajimu mendatangkan dosa dan tidak diterima.” (HR At Thabrani) - Sedekahnya ditolak.
Rasulullah SAW: Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Di sisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh Allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka. (HR. Abu Dawud). Atau dalam hadits lainnya :
“Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya dengan sanad hasan). - Silaturrahminya sia-sia.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mendapatkan harta dari dosa, lalu ia dengannya bersilaturahim (menyambung persaudaraan) atau bersedekah, atau membelanjakan (infaq) di jalan Allah, maka Allah menghimpun seluruhnya itu, kemudian Dia melemparkannya ke dalam neraka. Lalu Rasulullah saw bersabda, ” Sebaik-baiknya agamamu adalah al-wara’ (berhati-hati).” (HR Abu Daud)
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan.(untuk matan lengkapnya lihat Sunan At-Tirmidzi, hadits no.2417).
Banyak orang yang tidak peduli darimana sumber harta yang ia peroleh. Bagi mereka halal dan haram sama saja. Kenapa begitu bodohnya manusia sehingga menjadi lalai dan bahkan seolah-olah tidak merasa bersalah bila ia melakukan korupsi atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Padahal semua itu hanya akan menyusahkan saja. Di dunia ia akan senantiasa merasa gelisah dan akan menghadapi banyak masalah, karena harta haram itu tidak barokah. Bahkan di akhirat akan mendapatkan siksaan yang lebih berat lagi. Begitu meruginya orang-orang yang memakan harta haram, karena amal ibadah mereka jadi sia-sia. Allah tidak menerima sholat, sedekah dan haji mereka selama masih ada harta haram yang mereka gunakan.
Untuk para orang tua atau para calon orang tua, ingatlah untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari panas nya api neraka. Jangan jerumuskan anak dan istri yang kamu sayangi dengan memberikan mereka makanan dari harta yang haram. Para ayah selalu merasa bangga jika bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka akan berusaha untuk mengumpulkan harta yang banyak agar bisa membuat anaknya senang dan hidup serba berkecukupan. Bahkan kadang untuk hal itu, sang ayah sanggup melakukan apa saja agar kebutuhan sang anak tercukupi. Kasih sayang dan keinginan yang begitu besar tersebut sampai membuat mereka menutup mata dari mana saja sumber uang yang mereka peroleh.
Itulah kasih sayang yang keliru. Tidak kah mereka para orang tua berpikir sekali lagi, bahwa harta dan makanan haram yang mereka berikan kepada sang anak, hanya akan membuat anak menderita meskipun kelihatan nya mereka hidup serba berkecukupan. Rejeki haram yang mereka makan akan menjerumuskan mereka ke neraka, tidak kah orang tua menyadari hal itu?? tegakah para orang tua melihat anak-anak nya ikut bersama mereka ke neraka?? Bahkan di dunia pun penderitaan itu akan mereka rasakan. Anak-anak yang tumbuh dari harta yang haram akan membuat mereka menjadi pembangkang dan sulit untuk patuh pada orang tua. Dan sudah pasti akan sangat sulit membuat mereka para anak untuk dekat dengan Penciptanya. Jadi, jangan salahkan anak jika mereka sulit untuk diatur. Harta haram juga akan membawa penyakit bagi anak-anak kita. Jadi, sadarkah para orang tua?? masih kan kalian ingin memberikan kasih sayang dengan cara keliru seperti ini?? kasih sayang yang hanya akan membuat keluarga yang anda sayangi ikut terjerumus dalam api neraka. Na’udzubillah mindzalik.
Semoga Allah menjaga kita semua, agar senantiasa berhati-hati dalam mencari rezeki dan terhindar dari rezeki dan harta yang haram. Aamiin.
“Akan datang sesuatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram“. [HR Bukhari].
Sumber :
Sabtu, 05 November 2011
Berimankah Kita?
Berimankah Kita?
Ketika ditanya, kita mungkin sering menyatakan diri sebagai orang yang beriman. Kita berkata bahwa kita percaya pada keberadaan Allah Yang Maha Esa beserta para nabi, kitab, malaikat, hari akhir, dan takdir-Nya. Dan dalam hati kita mungkin memang percaya. Namun, sejauh apa tingkat keyakinan kita?
Semakin yakin seseorang akan sesuatu, semakin gigih ia untuk berusaha memahami dan memperjuangkan keyakinannya itu. Bila kita percaya bahwa sesuatu itu benar adanya, benar-benar percaya, tentu semua tindakan kita akan didasarkan pada kepercayaan itu. Karenanya, tingkat keimanan seseorang sedikit banyak dapat dilihat dari perbuatan dan tingkah lakunya. Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang mukmin atau orang yang beriman bila perilakunya mencerminkan keimanannya itu. Walau tentu kesungguhan dalam hatinya lah yang menentukan tingkat keimanannya.
Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa menyenangi amalan kebaikannya dan menyedihkan (bersedih dengan) keburukannya maka dia adalah seorang mukmin. (HR. Al-Hakim).
Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan yang ucapannya kotor. (HR. Bukhari).
Seorang mukmin adalah orang yang dapat diharapkan datangnya kebaikan dari dirinya dan orang-orang merasa aman dari kejahatannya. Tak akan berani ia mengambil yang bukan haknya atau membiarkan orang yang membutuhkan pertolongan ketika ia mampu memberikan bantuan. Ia menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan sepenuh hati, juga tidak berputus asa ketika mendapat kesulitan, karena dia percaya bahwa Allah swt. yang menciptakannya memang ada, dengan segala kebesaran, kuasa, dan sifat-sifat lainnya yang mulia.
Seorang mukmin akan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala kebaikan, menjalin hubungan yang baik dengan semua orang dan memberi manfaat terbaik yang dapat disumbangkannya pada dunia, karena dia meyakini keadilan hukum Allah pasti berlaku, juga hari akhir dengan segala kejadian di dalamnya. Ia percaya bahwa para nabi, khususnya Rasulullah saw., menyampaikan ajaran yang terbaik, maka ia meneladaninya, dengan segala cinta kasih, kedamaian, dan kebaikan yang disampaikan beliau.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mukminun: 1-11).
Artikel diatas diambil dari http://www.alifmagz.com/berimankah-kita/
Sabtu, 29 Oktober 2011
Memperjelas Posisi Bid’ah = Menutup Pintu Debat Kusir
Memperjelas Posisi Bid’ah = Menutup Pintu Debat Kusir
Mungkin banyak sekali diantara pembaca yang sudah tidak asing mendengar hadits hadits tentang bid,ah, tetapi tak banyak yang bisa dilakukannya selain menangkap mentah dan menelannya mentah juga, Perhatikan hadits berikut :
“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk URUSAN AGAMA ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka”. (HR. Muslim)
Hal yang tampak tak jelas pada hadits diatas hanya 1 yakni yang diada adakan, selebihnya jelas dan mudah dipahami. Sungguh sebuah kebenaran yang sangat indah. dan coba anda pasangkan dengan hadits berikut:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat, Kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat tersebut, maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya, dan barangsiapa yang jatuh dalam perkara syubhat, maka dia jatuh kepada hal yang haram. …….”
Jika pada kedua hadits diatas anda masih belum mengerti bahkan cenderung bingung, Perhatikan lagi kaidah dalam ilmu hadits berikut dan camkan yang tercetak tebal.
- Untuk Perkara Ibadah, hukum asalnya adalah Haram dikerjakan…..Sebelum ada perintah (tentu saja perintah tersebut berasal dari Al Qur’an dan Hadits)
- sedangkan Perkara Keduniaan, Hukum asalnya adalah Halal dan boleh dikerjakan,…sebelum ada Larangan.
- sedangkan Perkara Keduniaan, Hukum asalnya adalah Halal dan boleh dikerjakan,…sebelum ada Larangan.
Bagi umat muslim itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar, Bahwa sesuatu yang haram sungguh telah jelas, begitu juga yang halal. Dari penjelasan diatas, saya yakin pembaca pasti paham, dalam perkara apa makruh dan mubah itu ditempatkan.
Alhasil, janganlah kita seperti orang bingung, karena kebanyakan orang Indonesia lebih suka mengerjakan sesuatu yang tidak ada contohnya, sedangkan banyak sekali yang telah ada contohnya (sunnah) dia tinggalkan tanpa merasa. sungguh ini hanya bisa dipahami oleh orang yang bukan sekedar berakal, tetapi betul betul menggunakan akalnya itu.
artikel diatas diambil dari : http://www.fadilmubarok.com/memperjelas-posisi-bidah-menutup-pintu-debat-kusir/
Kamis, 27 Oktober 2011
Surganya Orang Miskin
Surganya Orang Miskin
“Kepadaku diperlihatkan semua penghuni surga, ternyata yang aku saksikan kebanyakan penghuni surga itu adalah orang-orang miskin, dan kebanyakan penghuni neraka itu orang-orang kaya.” (Hadist)
Apa yang Anda pikirkan setelah membaca hadist Nabi SAW di atas? Jika Anda adalah orang kaya apakah terbersit ketakutan Anda hidup dalam kekayaan karena jumlah orang kaya lebih banyak di neraka? Sehingga kemungkinan besar Anda termasuk dalam golongan yang menghuni tempat paling buruk itu. Atau Anda berpikir untuk hidup miskin saja agar lebih mudah, agar Anda punya kemungkinan lebih besar untuk menjadi penghuni surga karena yang masuk surga nanti kebanyakan orang miskin?
Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan orang-orang kaya. Sekali lagi bukan. Bukan pula karena saya hidup dalam kemiskinan sehingga muncul sifat tendensius terhadap orang kaya. Saya mengawali hadist di atas karena saya ingin menunjukan betapa orang miskin pun ternyata punya harapan. Bahwa ternyata orang miskin sangat diperhatikan dalam ajaran Islam. Harapan itulah yang harus kita bangun. Harapan yang saya maksud disini adalah cita-cita, niat yang kuat disertai ikhtiar untuk menggapai tempat terbaik di akhirat, yaitu surga.
Begitupun jika Anda kaya. Sangat baik jika Anda iri. Iri dalam hal kebaikan itu sangat dianjurkan. Iri dalam berlomba menggapai surga itu memunculkan banyak hal positif. Iri kepada mereka yang papa dan tidak punya apa-apa alias miskin tapi ternyata orang-orang miskin lebih mudah dan lebih banyak masuk surga ketimbang orang kaya. Sehingga jika Anda kaya, maka jangan berbangga dengan kekayaan harta di dunia. Karena bisa jadi, harta tersebutlah yang menghambat jalan ke surga. Atau setidaknya harta tersebut menjadi sebab merasakan neraka di dunia. Neraka dunia yang bisa jadi berupa ketidaktenangan karena terus-terusan memikirkan keamanan harta yang Anda miliki. Atau munculnya keresahan jiwa disebabkan selalu merasa tidak cukup dengan yang dimiliki. Selalu iri hati melihat orang lain yang lebih mempunyai sesuatu yang lebih banyak dibanding Anda. Atau permasalahan ‘njlimet disebabkan anak-anak atau orang-orang dekat yang saling berperang merebutkan harta Anda. Lebih-lebih nanti merasakan siksa neraka akhirat yang jauh lebih dahsyat dengan bahan bakar harta yang Anda tumpuk. Naudzubillahimindzalik! Semoga Allah melindungi kita dari siksa dan kesusahan di dunia dan akhirat.
Jadi apapun dan bagaimanapun kondisi kita saat ini. Miskinkah atau kayakah? Semuanya punya peluang yang sama untuk menggapai surga. Yang terpenting kita bisa memahami peluang itu. Kita bisa mengambil hikmah, mengambil pelajaran yang semakin membuat kita paham dan mengerti apa hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk menggapai keridhoan Allah dalam indahnya surga. Maka, apakah yang bisa kita pelajari dan pahami dari sebuah kemiskinan dalam konteks merebut surga dan keridhoan Allah?
Mari sekilas kita membayangkan kisah berabad silam di masa Rasulullah SAW masih menghembuskan nafasnya. Saat beliau masih duduk dan bercengkrama dengan orang-orang miskin. Saat suatu ketika Aisyah ra, istri Nabi SAW, meminta wasiat kepadanya.
Aisyah pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, aku ingin dekat dengan Allah, bagaimana caranya?”
Nabi SAW bersabda, “Dekatilah orang-orang miskin, nanti kamu akan dekat dengan Allah, dekatilah orang-orang kecil.”
Nabi kita Muhammad SAW memang dikenal lebih suka berkumpul bersama dengan orang-orang miskin. Jika ingin mencari Rasulullah jangan mencarinya di tempat orang-orang kaya karena sudah dipastikan tidak akan ketemu. “Khudzuni fi dhu’afaikum!” Temuilah aku di tempat orang-orang papa (miskin), kata Rasulullah. Jika Anda masih hidup sejaman dengan beliau, carilah dia di tengah-tengah orang miskin, karena tidak ada tempat yang paling dicintai Rasulullah SAW, selain tempat-tempat orang miskin, rakyat jelata.
Bahkan Sang Purnama Kehidupan itu berani berdoa, “Allahuma ‘ahyini miskinan...,” Ya Allah hidupkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, wafatkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, dan bangkitkanlah aku di hari kiamat bersama orang-orang miskin juga.
Adakah diantara kita yang hidup di jaman ini yang berani berdoa seperti itu? Rasanya sulit. Dan saya sendiri mengakui dengan jujur tak pernah sekalipun berani berdoa seperti doa Rasulullah di atas. Rasanya terlalu besar ketakutan dalam hati ini untuk bisa hidup dalam jurang kemiskinan meskipun sejak dulu saya dan keluarga sudah hidup dalam kemiskinan.
Rasulullah meneruskan kembali wasiatnya untuk Aisyah. Wasiat inilah yang merupakan hadist rujukan yang saya tulis di awal. Nabi SAW bersabda, “Kepadaku diperlihatkan semua penghuni surga, ternyata yang aku saksikan kebanyakan penghuni surga itu adalah orang-orang miskin, dan kebanyakan penghuni neraka itu orang-orang kaya.”
Ada kisah yang menurut saya sangat unik dan menakjubkan. Rasulullah pernah mencium tangan lelaki miskin yang kerjanya mencari nafkah hanya dengan cara membelah batu. Saya katakan unik dan menakjubkan karena sewajarnya orang-orang biasalah yang berebut mencium tangan Nabi SAW manusia mulia pilihan utusan Allah. Karena siapa yang pernah bersentuhan dengan kulit Nabi SAW akan diharamkan dari api neraka. Tapi kali ini justru Nabi Muhammad manusia yang berakhlak paling mulia itulah yang mencium tangan orang biasa.
Saat itu hari masih terang. Sinar matahari masih memancar di tanah Madinah. Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya baru pulang dari suatu peperangan. Semua orang di Madinah menyambut kepulangan Nabi SAW. Semua orang berebut menyalami dan mencium tangan Nabi SAW. Hingga datanglah seorang lelaki bertampang lusuh dan berpakaian sangat sederhana. Dari penampilannya orang sudah bisa menebak ia dari kalangan ekonomi rendah. Lelaki miskin tersebut hendak berusaha menyalami dan mencium tangan Nabi SAW. Tapi Nabi SAW tidak menerimanya. Sempat wajah lelaki miskin itu berubah kecut karena kecewa. Akan tetapi kemudian, Nabi SAW mengambil tangan lelaki tersebut dengan erat dan mesra lalu mencium tangan lelaki miskin tersebut. Pancaran sinar kebahagiaan berbinar dari wajah lelaki itu. Sepasang matanya hampir berkaca-kaca karena bangganya terhadap perlakuan Rasulullah pada dirinya.
Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi SAW merasakan tangannya sangat kasar sekali. Rasulullah meraba dan mengelus telapak tangan si lelaki biasa itu. Kemudian Nabi SAW bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Ada sedikit perasaan tidak enak tentunya bagi si lelaki karena harus menyalami tangan Nabi SAW dengan kondisi telapak tangannya yang kasar. Sambil menahan haru karena bahagia bisa bercengkrama dengan Nabiullah, lelaki itu menjawab, “Ya Rasulullah, kerjaan saya ini setiap hari membelah batu, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Mendengar lelaki miskin itu bercerita tentang dirinya, bagaimanakah sikap Nabi Muhammad SAW manusia paling mulia, utusan Allah yang mempunyai akhlak paling agung, tak ada yang bisa menandingi keluhuran budi pekerti beliau itu? Nabi Muhammad SAW berkali-kali menciumi tangan si lelaki miskin yang tak punya gelar dan posisi tinggi tersebut. Bahkan sesekali Nabi Muhammad SAW mengeluskan tangan kasar si lelaki ke wajahnya.
Sambil tersenyum dan menatap si lelaki dengan tatapan penuh kasih sayang kemudian Nabi SAW berkata, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada.” Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya.
Kerja keras, banting tulang, peras keringat, berpeluh debu dan panas hingga kulit-kulit kita terkelupas dan melepuh disebabkan mencari nafkah merupakan hal yang sangat dicintai Nabi SAW. Saking cintanya, beliau rela menyalami dan mencium kulit orang yang kasar karena berjuang mencari nafkah. Kabar gembira pun terlontar dari lidah Nabi SAW, “Tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya.”
Apa yang Anda pikirkan setelah membaca hadist Nabi SAW di atas? Jika Anda adalah orang kaya apakah terbersit ketakutan Anda hidup dalam kekayaan karena jumlah orang kaya lebih banyak di neraka? Sehingga kemungkinan besar Anda termasuk dalam golongan yang menghuni tempat paling buruk itu. Atau Anda berpikir untuk hidup miskin saja agar lebih mudah, agar Anda punya kemungkinan lebih besar untuk menjadi penghuni surga karena yang masuk surga nanti kebanyakan orang miskin?
Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan orang-orang kaya. Sekali lagi bukan. Bukan pula karena saya hidup dalam kemiskinan sehingga muncul sifat tendensius terhadap orang kaya. Saya mengawali hadist di atas karena saya ingin menunjukan betapa orang miskin pun ternyata punya harapan. Bahwa ternyata orang miskin sangat diperhatikan dalam ajaran Islam. Harapan itulah yang harus kita bangun. Harapan yang saya maksud disini adalah cita-cita, niat yang kuat disertai ikhtiar untuk menggapai tempat terbaik di akhirat, yaitu surga.
Begitupun jika Anda kaya. Sangat baik jika Anda iri. Iri dalam hal kebaikan itu sangat dianjurkan. Iri dalam berlomba menggapai surga itu memunculkan banyak hal positif. Iri kepada mereka yang papa dan tidak punya apa-apa alias miskin tapi ternyata orang-orang miskin lebih mudah dan lebih banyak masuk surga ketimbang orang kaya. Sehingga jika Anda kaya, maka jangan berbangga dengan kekayaan harta di dunia. Karena bisa jadi, harta tersebutlah yang menghambat jalan ke surga. Atau setidaknya harta tersebut menjadi sebab merasakan neraka di dunia. Neraka dunia yang bisa jadi berupa ketidaktenangan karena terus-terusan memikirkan keamanan harta yang Anda miliki. Atau munculnya keresahan jiwa disebabkan selalu merasa tidak cukup dengan yang dimiliki. Selalu iri hati melihat orang lain yang lebih mempunyai sesuatu yang lebih banyak dibanding Anda. Atau permasalahan ‘njlimet disebabkan anak-anak atau orang-orang dekat yang saling berperang merebutkan harta Anda. Lebih-lebih nanti merasakan siksa neraka akhirat yang jauh lebih dahsyat dengan bahan bakar harta yang Anda tumpuk. Naudzubillahimindzalik! Semoga Allah melindungi kita dari siksa dan kesusahan di dunia dan akhirat.
Jadi apapun dan bagaimanapun kondisi kita saat ini. Miskinkah atau kayakah? Semuanya punya peluang yang sama untuk menggapai surga. Yang terpenting kita bisa memahami peluang itu. Kita bisa mengambil hikmah, mengambil pelajaran yang semakin membuat kita paham dan mengerti apa hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk menggapai keridhoan Allah dalam indahnya surga. Maka, apakah yang bisa kita pelajari dan pahami dari sebuah kemiskinan dalam konteks merebut surga dan keridhoan Allah?
Mari sekilas kita membayangkan kisah berabad silam di masa Rasulullah SAW masih menghembuskan nafasnya. Saat beliau masih duduk dan bercengkrama dengan orang-orang miskin. Saat suatu ketika Aisyah ra, istri Nabi SAW, meminta wasiat kepadanya.
Aisyah pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, aku ingin dekat dengan Allah, bagaimana caranya?”
Nabi SAW bersabda, “Dekatilah orang-orang miskin, nanti kamu akan dekat dengan Allah, dekatilah orang-orang kecil.”
Nabi kita Muhammad SAW memang dikenal lebih suka berkumpul bersama dengan orang-orang miskin. Jika ingin mencari Rasulullah jangan mencarinya di tempat orang-orang kaya karena sudah dipastikan tidak akan ketemu. “Khudzuni fi dhu’afaikum!” Temuilah aku di tempat orang-orang papa (miskin), kata Rasulullah. Jika Anda masih hidup sejaman dengan beliau, carilah dia di tengah-tengah orang miskin, karena tidak ada tempat yang paling dicintai Rasulullah SAW, selain tempat-tempat orang miskin, rakyat jelata.
Bahkan Sang Purnama Kehidupan itu berani berdoa, “Allahuma ‘ahyini miskinan...,” Ya Allah hidupkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, wafatkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, dan bangkitkanlah aku di hari kiamat bersama orang-orang miskin juga.
Adakah diantara kita yang hidup di jaman ini yang berani berdoa seperti itu? Rasanya sulit. Dan saya sendiri mengakui dengan jujur tak pernah sekalipun berani berdoa seperti doa Rasulullah di atas. Rasanya terlalu besar ketakutan dalam hati ini untuk bisa hidup dalam jurang kemiskinan meskipun sejak dulu saya dan keluarga sudah hidup dalam kemiskinan.
Rasulullah meneruskan kembali wasiatnya untuk Aisyah. Wasiat inilah yang merupakan hadist rujukan yang saya tulis di awal. Nabi SAW bersabda, “Kepadaku diperlihatkan semua penghuni surga, ternyata yang aku saksikan kebanyakan penghuni surga itu adalah orang-orang miskin, dan kebanyakan penghuni neraka itu orang-orang kaya.”
Ada kisah yang menurut saya sangat unik dan menakjubkan. Rasulullah pernah mencium tangan lelaki miskin yang kerjanya mencari nafkah hanya dengan cara membelah batu. Saya katakan unik dan menakjubkan karena sewajarnya orang-orang biasalah yang berebut mencium tangan Nabi SAW manusia mulia pilihan utusan Allah. Karena siapa yang pernah bersentuhan dengan kulit Nabi SAW akan diharamkan dari api neraka. Tapi kali ini justru Nabi Muhammad manusia yang berakhlak paling mulia itulah yang mencium tangan orang biasa.
Saat itu hari masih terang. Sinar matahari masih memancar di tanah Madinah. Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya baru pulang dari suatu peperangan. Semua orang di Madinah menyambut kepulangan Nabi SAW. Semua orang berebut menyalami dan mencium tangan Nabi SAW. Hingga datanglah seorang lelaki bertampang lusuh dan berpakaian sangat sederhana. Dari penampilannya orang sudah bisa menebak ia dari kalangan ekonomi rendah. Lelaki miskin tersebut hendak berusaha menyalami dan mencium tangan Nabi SAW. Tapi Nabi SAW tidak menerimanya. Sempat wajah lelaki miskin itu berubah kecut karena kecewa. Akan tetapi kemudian, Nabi SAW mengambil tangan lelaki tersebut dengan erat dan mesra lalu mencium tangan lelaki miskin tersebut. Pancaran sinar kebahagiaan berbinar dari wajah lelaki itu. Sepasang matanya hampir berkaca-kaca karena bangganya terhadap perlakuan Rasulullah pada dirinya.
Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi SAW merasakan tangannya sangat kasar sekali. Rasulullah meraba dan mengelus telapak tangan si lelaki biasa itu. Kemudian Nabi SAW bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Ada sedikit perasaan tidak enak tentunya bagi si lelaki karena harus menyalami tangan Nabi SAW dengan kondisi telapak tangannya yang kasar. Sambil menahan haru karena bahagia bisa bercengkrama dengan Nabiullah, lelaki itu menjawab, “Ya Rasulullah, kerjaan saya ini setiap hari membelah batu, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Mendengar lelaki miskin itu bercerita tentang dirinya, bagaimanakah sikap Nabi Muhammad SAW manusia paling mulia, utusan Allah yang mempunyai akhlak paling agung, tak ada yang bisa menandingi keluhuran budi pekerti beliau itu? Nabi Muhammad SAW berkali-kali menciumi tangan si lelaki miskin yang tak punya gelar dan posisi tinggi tersebut. Bahkan sesekali Nabi Muhammad SAW mengeluskan tangan kasar si lelaki ke wajahnya.
Sambil tersenyum dan menatap si lelaki dengan tatapan penuh kasih sayang kemudian Nabi SAW berkata, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada.” Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya.
Kerja keras, banting tulang, peras keringat, berpeluh debu dan panas hingga kulit-kulit kita terkelupas dan melepuh disebabkan mencari nafkah merupakan hal yang sangat dicintai Nabi SAW. Saking cintanya, beliau rela menyalami dan mencium kulit orang yang kasar karena berjuang mencari nafkah. Kabar gembira pun terlontar dari lidah Nabi SAW, “Tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya.”
Itulah tangan yang senantiasa digunakan untuk bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi diri dan keluarga. Itulah kulit yang dicintai Nabi SAW, kulit yang menghitam terbakar matahari, bukan kulit yang memutih karena takut tersengat panas. Tangan yang dicintai Nabi SAW adalah tangan yang kasar menjadi keras (kapalan), kulit yang melepuh karena mencari nafkah meraih rejeki. Bukan tangan yang lembut, yang berkali-kali membuka ayat-ayat Al-Qur’an tapi membiarkan keluarganya kelaparan. Bukan pula tangan yang hanya sekali tanda tangan ratusan juta rupiah bisa cair.
Rasulullah melihat perjuangannya bukan pada apa yang dimiliki dan dihasilkan, bukan pada kaya atau miskinnya. Orang yang makan dari keringat sendiri jauh lebih disenangi Allah dan Rasulullah. Orang yang bekerja keras dan bersusah payah mencari nafkah jauh lebih dicintai Allah dan Rasulullah meskipun akhirnya hanya mendapat beberapa puluh ribu rupiah saja dan hanya cukup untuk makan sehari, daripada orang yang bisa mendapatkan jutaan rupiah tapi dengan cara yang sangat mudah, tinggal minta orang tua misalnya.
Mari kita contoh bagaimana orang-orang miskin di jaman Rasulullah juga selalu bersemangat dalam berlomba meraih kemuliaan akhirat, mencari keridhoan Allah, menggapai surga. Suatu hari beberapa orang miskin datang berdemonstrasi ke hadapan Rasulullah. Mereka iri dengan orang kaya yang dengan kekayaan bisa mendapatkan pahala karena bisa bersedekah.
Orang-orang miskin itu bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat orang-orang kaya itu lebih enak, mereka bisa bersedekah dan mendapatkan pahala yang banyak dengan sedekahnya. Tapi bagaimana dengan kami yang miskin? Kami tidak punya apa-apa untuk disedekahkan.”
Rasulullah menjawab, “Bacalah oleh kalian ‘subhanallah walhamdulillah wallahu akbar’ itu sama nilainya dengan sedekah orang kaya.”
Orang miskin bertanya lagi, “Akan tetapi Ya Rasulullah, orang kaya itu juga bisa berdzikir seperti itu.”
Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada diantara dosa-dosa yang tidak bisa ditebus oleh apapun kecuali dengan sulitnya mencari nafkah yang halal. Ada dosa yang tidak ditebus dengan ratusan pergi haji, dan ada dosa yang tidak bisa ditebus kecuali dengan membaca dzikir itu, dan ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan setinggi gunung emas sekali pun. Dan dosa itu hanya bisa ditebus dengan kesengsaraan dalam mencari nafkah yang halal, sulitnya mencari uang, itulah yang akan menjadi penghapus terhadap dosa-dosa.”
Dalam kesempatan lain Rasulullah juga pernah berkata, “Orang miskin lebih cepat masuk surga ketimbang orang kaya.”
Sekali lagi tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan orang kaya. Dan bukan pula maksud saya menagnjurkan agar kita semua menjadi miskin agar bisa masuk surga. Sekali lagi bukan. Tapi inilah tujuan hidup kita. Berpikir untuk meraih kehidupan mulia di akhirat. Bekerja dan terus bekerja selama kita msih kekuatan untuk bekerja. Bekerja untuk mencari nafkah dan dilandasi niat bahwa semua yang kita lakukan untuk mendapat keridhoan Allah.
Surga menanti setiap orang yang tak pernah menyerah dan tak kenal henti untuk terus bekerja. Tak memandang apakah Anda orang miskin atau orang kaya. Jangan jadikan kemiskinan sebagai alasan untuk berhenti dan menyerah. Tak ada kata putus asa, jika Anda memahami bahwa hidup ini hanya sementara dan akhiratlah yang kekal. Mungkinkah kitalah orang yang sedang dinantikan dan dirindukan surga? Saya berdoa semoga memang kitalah orangnya. Aamiin.
Rahmat HM
Artikel diatas diambil dari http://budinidaasih.blogspot.com/2011/01/surganya-orang-miskin.html
Selasa, 25 Oktober 2011
Mengingatkan Orang Lain, Memperbaiki Diri Sendiri
Mengingatkan Orang Lain, Memperbaiki Diri Sendiri
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Apa yang kita ketahui begitu terbatas. Apa yang dapat kita lakukan dari pengetahuan kita juga tak sempurna. Kondisi fisik dan semangat kita pun tidak selalu stabil, termasuk dalam hal beribadah.
Itulah sebabnya, kita membutuhkan manusia lain untuk membantu dan mengingatkan kita. Begitu pun sebaliknya. Kita perlu saling bertukar pikiran ketika menghadapi suatu masalah, nasihat-menasihati, saling memberi semangat, dan berbagi sudut pandang.
Tentu kita masih ingat Al-Qur’an surat Al-Ashr, ayat 1-3:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Ketika kita mengetahui suatu kebaikan, melakukannya adalah baik, tetapi lebih baik lagi bila kita juga mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan itu. Justru kita telah berbuat kurang baik, jika membiarkan orang lain tidak mengetahui kebaikan yang sama atau membuang kesempatan kebaikan yang mungkin bisa dilakukan orang itu, jika saja kita mengajaknya. Begitu pun dengan keburukan. Kita bisa ikut menjadi jahat, bila membiarkan orang lain melakukan keburukan dengan segala konsekuensinya, padahal kita mengetahuinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka). (HR. Abu Zar).
Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR. Muslim).
Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam. (HR. Bukhari dan Muslim).
Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar. (HR. Tirmidzi).
Tak dapat dipungkiri, kalau tidak selalu mudah melakukan keduanya. Kita tentu juga harus melihat waktu dan tempat, mempertimbangkan kedekatan hubungan serta kondisi pada saat itu, dan memilih cara yang terbaik dalam mengingatkan orang lain. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Permudahlah (segala urusan), jangan dipersulit dan ajaklah dengan baik, jangan menyebabkan orang menjauh. (HR. Bukhari).
Penting untuk kita ingat, saat memberi nasihat, orang yang pertama dan terutama harus kita perhatikan adalah diri kita sendiri. Untuk orang lain, tugas kita hanya mengingatkan, namun untuk diri sendiri, kita bertanggung jawab untuk melakukan apa yang kita nasihatkan. Nasihat kita adalah pengingat bagi diri kita untuk terus belajar menjadi lebih baik.
Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, “Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar?” Orang tersebut menjawab, “Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat ma’ruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim).
Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa. (QS. Al-An’am: 69).
Sabtu, 22 Oktober 2011
Syarat Mutlak Kehidupan (jujur)
Syarat Mutlak Kehidupan (jujur)
Posted by Luqman Abdurrahman Shaleh on Desember 17, 2010
“Ya Rasulullah, terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang lain. Nabi Saw menjawab, “Katakan: ‘Aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur).” [1]
Berbuat jujur sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan Islam sendiri menganjurkan kita untuk bersikap jujur kepada siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Rasulullah saw bersabda bahwa ‘Islam itu beriman kepada Allah swt dan bersikap jujur’. Apa artinya? Ini membuktikan bahwa jujur dalam Islam adalah bernilai ‘mutlak’. Sikap jujur akan selalu ditinggikan. Tanpa jujur, berarti iman kita lemah.
Bersikap Jujur Dalam
>> Bersumpah
“Jangan bersumpah kecuali dengan nama Allah. Barangsiapa bersumpah dengan nama Allah, dia harus jujur (benar). Barangsiapa disumpah dengan nama Allah ia harus rela (setuju). Kalau tidak rela (tidak setuju) niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” [2]
Dalam bersumpah, kita hendaklah bersikap jujur. Karena dengan kejujuran itu maka segala sumpah kita akan terasa lebih ringan. Bahkan kita akan dipercaya oleh banyak orang karena kita jujur dalam bersumpah. Sumpah sendiri merupakan perjanjian yang bersaksikan atas Allah swt. Oleh karena itu, Allah swt sangat tidak menyukai orang yang tidak jujur dalam bersumpah.
“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” [3]
>> Berbagai Perkara
“Bila seorang hakim mengupayakan hukum (dengan jujur) dan keputusannya benar, maka dia akan memperoleh dua pahala. Tetapi bila keputusannya salah maka dia akan memperoleh satu pahala.” [4]
Dalam berbagai perkara tentunya kita haruslah bersikap jujur. Bahkan Rasulullah saw sendiri menganjurkan sikap jujur harus dimiliki oleh hakim. Hakim dalam menentukan perkara harusnya jujur dalam menanggapi masalah. Apakah jujur dalam berbagai perkara hanya ditujukan untuk hakim ‘Negara’? Tidak. Yang dimaksud dengan hakim disini adalah orang yang membantu menyelesaikan perkara dalam artinya ‘orang ketiga’. Oleh karena itu, kita haruslah bersikap jujur pada saat menyelesaikan perkara.
>> Musyawarah
“Orang yang diajak bermusyawarah (dimintai pendapat) adalah orang yang bisa memegang amanat (jujur , ikhlas dan dapat menyimpan rahasia).” [5]
Bermusyawarah dan berembuk tentunya haruslah dengan sikap yang jujur. Karena jika tidak ,maka kita tidak akan mencapai mufakat yang dicapai. Atau jika kita sudah mencapai mufakat, maka tidak akan berjalan dengan baik mufakat tersebut. Mengapa? Karena ‘sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga’ artinya orang yang menyembunyikan sesuatu walau pun amat sangat rahasia, maka pada suatu saat kebohongan tersebut akan terungkap pula.
>> Bekerja
“Sebaik-baik mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia jujur (ikhlas).” [6]
Jujur dalam bekerja haruslah kita pegang. Karena jika kita tidak jujur dalam bekerja, maka secara ‘otomatis’ pekerjaan kita tidak akan membawa berkah dan tentunya hasil yang kita dapat adalah hasil pekerjaan yang haram, walau pun pekerjaan kita adalah yang dalam kategori halal.
“Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Apabila mereka jujur dan mau menerangkan (keadaan barang), mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Dan jika mereka bohong dan menutupi (cacat barang), akan dihapuskan keberkahan jual beli mereka.” [7]
>> Ilmu
“Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta.” [8]
Kita ajarkan ilmu secara terang-terangan. Janganlah takut jika kepopuleran kita akan hilang. Justru dengan mengajarkan ilmu secara jujur dan ikhlas maka kita akan dikenal para penghuni surga. Mereka tersenyum karena kita adalah orang yang senantiasa mengajarkan ilmu kepada siapa pun. Dan ilmu itu akan terus mengalir tanpa batas ke segala penjuru hilir zaman.
Manfaat Sikap Jujur
>> Membawa Kita Ke Surga
“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong).” [9]
Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa jujur adalah sifat ‘mutlak’ dalam agama Islam maka barang siapa yang berlaku jujur dalam berbagai hal oleh siapa pun dimana pun dan kapan pun maka orang tersebut telah dijanjikan oleh Allah swt masuk surga.
>> Selalu Menjadi Panutan
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)” [10]
Orang yang senantiasa berlaku jujur maka orang tersebut akan disegani oleh orang lain dan orang tersebut secara ‘otomatis’ akan menjadi panutan bagi banyak orang dari sikap kejujurannya tersebut. Oleh karena itu, sudah semestinya kita berlaku jujur kepada semua orang.
>> Dicintai Allah swt
“Barangsiapa ingin dicintai Allah dan rasulNya hendaklah dia berbicara benar (jujur), menepati amanat dan tidak mengganggu tetangganya.” [11]
Orang yang berlaku jujur akan dicintai Allah swt. Allah swt tidak segan-segan memberikan apa yang diminta oleh orang yang berlaku jujur secara cuma-cuma hanya untuk hamba-hamba-Nya yang sangat Dia sayangi. Kunci hidup sukses adalah berlaku jujur kepada semua orang. Dan Allah swt akan senantiasa bersama orang-orang yang jujur.
>> Disanamakan Derjatnya Seperti Nabi-Nabi
“Pedagang yang jujur amanatnya kelak di hari kiamat bersama-sama para nabi, shiddiqin dan para shuhada.” [12]
Bekerja sebagai seorang pedagang sudah dijanjikan oleh Rasulullah saw bahwa derajatnya akan disamakan seperti derajat para nabi-nabi, shidiqin dan shuhada pada saat hari kiamat kelak. Sudah sepatutnya sabda Rasulullah saw ini menjadi motivasi terhadap diri kita untuk selalu berlaku jujur dalam melaksanakan jual-beli. Bukan hany jual-beli namun pekerjaan yang lainnya juga.
>> Dicatat Malaikat“Sesungguhnya seseorang selalu berkata jujur sehingga dia tercatat sebagai orang jujur dan seseorang selalu berdusta sehingga dia dicatat sebagai seorang pendusta.” [13]
Orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan pada saat hidup sudah pasti kebaikannya akan dicatat oleh Malaikat Allah swt. Dan ini menjadi timbangan yang berat pada saat hari dimana kita berkumpul dan ditimbang apa yang telah kita perbuat.
Orang Tidak Jujur aAdalah Seburuk-Buruknya Umat
“Sebaik-baik umatku adalah apabila pergi (musafir) dia berbuka puasa dan shalat Qashar, dan jika berbuat kebaikan merasa gembira, tetapi apabila melakukan keburukan dia beristighfar. Dan seburuk-buruk umatku adalah yang dilahirkan dalam kenikmatan dan dibesarkan dengannya, makanannya sebaik-baik makanan, dia mengenakan pakaian mewah-mewah dan bila berkata tidak benar (tidak jujur).” [14]
Seseorang yang tidak jujur berarti ia tidak memegang teguh sifat utama Islam. Dan Rasulullah saw sudah menegaskan bahwa ‘seburuk-buruknya umat adalah orang yang tidak berlaku jujur’. Padahal Allah swt sangatlah tidak menyukai ketidak jujuran.
Tanda Kiamat Banyak Orang Tidak Jujur
“Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika (berakhlak) buruk dengan tetangga, orang yang jujur(amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya).” [15]
Tanda-Tanda akan datangnya hari kiamat adalah orang-orang yang senantiasa tidak berlaku jujur. Mereka menghalalkan berbagai macam cara untuk memenuhi nafsu duniawi mereka. Banyak sekali para koruptor yang senang menggerus uang rakyat adalah misal tanda-tanda hari kiamat. Semoga kita semua diselamtkan oleh Allah swt dan diberi petunjuk agar selalu berlaku jujur dalam berbagai hal. Tetaplah istiqomah untuk mencapai khusnul khotimah.
[Luqman Abdurrahman Shaleh]
Hubungi: +6285649335665
Langganan:
Postingan (Atom)